Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Pesan - roysetiawan

Halaman: [1]
1
OPT Tanaman Obat / Re:Rekomendasi Teknologi Pengendalian OPT
« pada: Agustus 06, 2019, 10:55:55 AM »
mohon maaf mas rully, kalau boleh tau. untuk jenis tanaman dan penyakit seperti apa yang ingin di kendalikan?

2
Kekeringan / Re:Data kekeringan pada tanaman hortikultura?
« pada: Agustus 06, 2019, 10:54:02 AM »
saya bantu jawab ya bu wita

untuk melihat kekeringan dan curah hujan yang ada di Indonesia kita bisa akses melaui website

BMKG https://www.bmkg.go.id/?lang=ID , Balitklimat http://balitklimat.litbang.pertanian.go.id/ dan AWS Center http://202.90.198.206/awscenter/login.php

3
OPT Tanaman Buah / Re: cara membuat pestida alami
« pada: Agustus 06, 2019, 08:30:36 AM »
halooo mbak dewi

saya coba bantu jawab ya. ada banyak bahan yang bisa digunakan untuk pestisida alami,

Direktorat perlindungan hortikultura melalui websitenya sudah banyak menerangkan hal tersebut.

mbak dewi bisa mengaksesnya di http://ditlin.hortikultura.pertanian.go.id/index.php?option=com_content&view=category&id=62:infografis
untuk melihat desain infografis tentang pembuatan pestisida nabati.

terimakasih

4
hallo ibu diana,

saya coba bantu jawab yaa.

Lalat buah (Bactrocera, spp ialah  hama utama pada tanaman hortikultura dan seringkali menyebabkan kerusakan yang amat serius seperti kerusakan buah baik sebelum maupun saat panen.

Gejala serangan

    Gejala awal pada permukaan kulit buah ditandai dengan adanya noda/titik bekas tusukan ovipositor (alat peletak telur) lalat betina saat meletakkan telurnya ke dalam buah. Selanjutnya akibat gangguan larva yang menetas dari telur di dalam buah, maka noda-noda tersebut berkembang menjadi bercak coklat di sekitar titik tersebut. Larva memakan daging buah, dan akhirnya buah menjadi busuk dan gugur sebelum matang.

Strategi pengendalian yang diterapkan antara lain kontrol fisik, kontrol budidaya, kontrol biologi, kontrol perilaku hama, kontrol genetika dan kontrol kimia serta kombinasi pengendalian yang dikenal dengan Integrated Pest Management (IPM) atau Pengendalian Hama Terpadu (PHT).


Kontrol Fisik. Prinsip dari kontrol fisik adalah menyediakan barrier (penghalang) antara buah inang dan lalat buah betina yang siap meletakkan telurnya ke buah inang. Metode yang paling banyak digunakan adalah pembungkusan buah (fruit wrapping) atau pengantongan buah (fruit bagging) sebelum buah mencapai tahap kematangan yang menjadi target infestasi lalat buah. Bungkus atau kantong biasanya terbuat dari kertas koran/surat kabar atau kertas semen dibuat rangkap. Sekali lagi, menurut Vijaysegaran (1997, Fruit fly research and development in Tropical Asia) pembungkusan ini ditujukan untuk mencegah lalat buah betina yang hendak meletakkan telurnya ke buah. Di Indonesia, teknik ini terbukti cukup ampuh untuk mencegah infestasi lalat buah betina pada buah belimbing. Metode ini juga sangat ramah lingkungan, cukup efektif dipakai pada beberapa tanaman seperti mangga, jambu air dan jambu biji. Bahkan sebenarnya metode ini telah lama dipakai oleh masyarakat Indonesia dalam melindungi buah di kebunnya dari serangan hama dan mencegahnya dari “tangan usil”.

Kontrol Biologi. Termasuk dalam metode ini yaitu penggunaan agen kontrol biologi seperti preadator dan parasitoid. Penggunaan musuh alami dirasakan mampu menekan populasi lalat buah secara aman, permanen dan ekonomis. Namun sayangnya, teknik ini belum digunakan secara luas di Indonesia. Beberapa predator lalat buah antara lain laba-laba, semut, kumbang carabid, kepik pengisap atau assassin bugs, kumbang penjelajah atau staphylinid beetles (misalnya tomcat), lygaeid bugs dll.

Kontrol Perilaku Hama. Kontrol ini mencakup (1) teknik penggunaan warna, bentuk dan bebauan untuk merangsang atau menarik lalat buah, misalnya dengan pemasangan perangkap lalat buah yang dilengkapi atraktan berupa Methyl Eugenol (ME) ataupun Cue-lure; (2) male annihilation, yaitu dimaksudkan untuk mengurangi populasi lalat buah jantan hingga level terendah sehingga dapat mencegah lebih banyak perkawinan lalat buah jantan dengan lalat buah betina. Di Indonesia teknik ini diterapkan melalui pembuatan wooden block berukuran 5 cm x 5 cm x 1 cm yang direndam dengan campuran methyl eugenol dan pestisida yang mengandung fipronil dengan perbandingan 4:1; dan (3) penyemprotan protein bait. Protein bait mengandung campuran atraktan dan racun yang digunakan untuk membunuh lalat buah betina sehingga bisa menekan populasi lalat buah secara efektif. Protein bait berperan sebagai food attractant bagi lalat buah betina yang berguna untuk mematangkan telur.


Kontrol Genetika. Metode yang dipakai adalah Sterile Insect Release Method (SIRM) yaitu eradikasi lalat buah dengan membuat jantan mandul dengan teknik sterilisasi menggunakan Cobalt-60 atau Cesium-137. Jantan yang telah dibuat mandul tersebut dilepas lalu dipantau perkembangan populasinya. Meskipun efektif, metode ini sangat mahal dan memerlukan penanganan para ahli. Metode ini telah diterapkan di Kume Island – Okinawa, Jepang dan berhasil mengeradikasi Melon Fly.


Kontrol Kimia. Pemakaian insektisida semestinya dikurangi mengingat dampaknya yang sangat berbahaya bagi lingkungan, begitu pula dengan residunya. Oleh karena itu penggunaan insektisida hanya bersifat darurat dan sementara serta sesuai rekomendasi berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian mengenai pestisida.
Pendekatan Integrated Pest Management atau Pengelolaan Hama Terpadu. Stretegi ini mencakup beberapa teknik yang telah disebutkan sebelumnya antara lain male annihilation, pemasangan perangkap lalat buah, penyemprotan protein bait, sanitasi dan budidaya. Di Indonesia, pendekatan IPM atau PHT telah diterapkan pada tanaman pangan, namun belum banyak diterapkan pada komoditas hortikultura. Baru-baru ini telah dilakukan sebuah pendekatan baru dari pengembangan IPM atau PHT yaitu Area-Wide Management (AWM) terhadap lalat buah pada tanaman mangga di Kabupaten Indramayu. Pelaksanaan AWM di Indramayu dianggap berhasil menurunkan populasi lalat buah B.papayae maupun B. carambolae yang menyerang tanaman mangga hingga mencapai level terendah.

selengkapnya bisa dicek di http://hortikultura.pertanian.go.id/?p=1959 dan http://ditlin.hortikultura.pertanian.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=121&Itemid=94

5
OPT Tanaman Sayuran / Re:Pengendalian OPT pada tanaman Bawang merah
« pada: Juli 31, 2019, 08:29:16 AM »
hallo pak.

saya coba bantu jawab ya.

Ulat bawang (Spodoptera exigua) merupakan hama utama yang umum merusak tanaman bawang merah. Serangan hama ini dapat menyebabkan penurunan produksi bawang merah atau kehilangan hasil yang tidak sedikit jika tidak dilakukan upaya Pencegahan dan pengendalian . Agar pengendalian hama ulat bawang dapat dilakukan secara tepat, maka harus dikenali terlebih dahulu morfologi/bioekologi, gejala serangan, tanaman inang, dan cara pengendaliannya.

Gejala Serangan

1. Bagian tanaman yang terserang terutama daunnya, baik daun pada tanaman yang masih muda ataupun yang sudah tua.
2.   Setelah menetas dari telur, ulat muda segera melubangi bagian ujung daun lalu masuk ke dalam daun bawang, sehingga ujung daun tampak berlubang/ terpotong. Ulat akan menggerek permukaan bagian dalam daun, sedang epidermis luar ditinggalkannya.
3. Akibat serangan tersebut daun bawang terlihat menerawang tembus cahaya atau terlihat bercak-bercak putih, akhirnya daun menjadi terkulai. Awalnya ulat berkumpul. Setelah isi daun habis, ulat segera menyebar dan jika populasi besar, ulat juga memakan umbi.

Beberapa Cara pengendalian:

1. Pengendalian kultur teknis (bercocok tanam)

Pengendalian dengan cara mengelola lingkungan atau ekosistem sedemikian rupa sehingga kurang cocok bagi kehidupan dan perkembangan hama. Pengendalian kultur teknis meliputi sanitasi, pengolahan tanah, pengelolaan air, pengaturan jarak tanam, tumpangsari, rotasi tanaman, penggunaan tanaman perangkap, pengaturan waktu tanam, dan penggunaan tanaman resisten.

2. Pengendalian Mekanis

Pengendalian secara mekanis bertujuan untuk mematikan hama secara langsung, baik dengan tangan maupun bantuan alat atau bahan lain. Penanganan dengan tangan yaitu dengan mengumpulkan kelompok telur dan ulat bawang (nguler) lalu dibakar atau dimusnahkan.

3. Pengendalian Fisik

Pengendalian yang dilakukan dengan cara mengatur faktor-faktor fisik yang dapat mempengaruhi perkembangan hama dengan memberi kondisi tertentu yang menyebabkan hama sulit untuk hidup.

a. Penggunaan perangkap feromon seks.

Feromon seks adalah senyawa kimia yang dibuat secara sintetik sebagai media komunikasi antara serangga jantan dan betina yang digunakan untuk mengendalikan hama ulat bawang. Dalam 1 ha dibutuhkan 12 – 24 buah.

b. Penggunaan lampu perangkap/light trap.

Perangkap ini didesain sedemikian rupa secara sederhana dengan cara kerja menarik ngengat melalui cahaya lampu dengan waktu nyala yang efektif dan efisien jam 18.00-24.00 WIB. Dalam satu hektar dibutuhkan 25-30 unit perangkap lampu.

c. Penggunaan kelambu kasa/shading net

Penggunaan kelambu kasa akan mencegah ngengat masuk ke areal pertanaman. Kelambu kasa dibuat dari bahan khusus yang tahan cuaca dan bisa dipakai hingga 6-8 kali musim tanam.

4. Pengendalian Hayati

Memanfaatkan agens hayati yaitu dengan menggunakan virus Se-NPV (Spodoptera exigua-Nuclear polyhedrosis Virus). Virus Se-NPV adalah salah satu virus patogen yang dapat dibuat dari larva S. exigua yang telah terinveksi oleh Se-NPV yang digunakan sebagai insektisida biologis untuk pengendalian ulat bawang.

5. Pengendalian Kimiawi

Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan insektisida apabila hasil pengamatan telah mencapai atau sekurangnya :

- 1 kelompok telur/10 rumpun contoh atau 5 % daun terserang/rumpun contoh pada musim kemarau - 3 kelompok telur/10 rumpun contoh atau 10 % daun terserang/rumpun contoh pada musim penghujan. Pengendalian secara kimiawi harus dilakukan secara tepat.

Halaman: [1]